TUGAS
IPS
MATA
UANG YANG PERNAH BERLAKU DI INDONESIA
Penyusun:
1.
KHAIRUNNISA NURLIA UTAMI (16)
2.
NATASYA MAHENDRI KUSUMA W (20)
3.
NOVITASARI FITRIANI (22)
4.
RIMA NOFITASARI (29)
Kelas:
IX A
SMP NEGERI 3
PURWODADI
TAHUN PELAJARAN
2016/2017
KATA PENGANTAR
Dengan
memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, kami dapat menyelesaikan
tugas IPS ini dengan baik. Terima kasih kepada bapak/ibu guru yang telah
memberikan kami ilmu. Terima kasih juga kepada semua situs online yang telah
membantu kami mengerjakan tugas ini dengan baik. Mengenal jenis-jenis uang yang
pernah berlaku di Indonesia sejak dulu hingga sekarang. Taklupa, kami sampaikan
terima kasih kepada teman-teman yang telah membantu dan mendukung kami dalam mengerjakan
tugas ini. Semoga makalah yang kami beri judul “ Jenis-jenis Uang yang Pernah
Berlaku di Indonesia dari Masa ke Masa “. Dapat membantu adik-adik dan
teman-teman untuk mengenal mata uang yang pernah digunakan di Indonesia.
Purwodadi, 22
November 2016
Penyusun
DAFTAR
ISI
Kata
Pengantar....................................................................................................................... i
Daftar
Isi................................................................................................................................ ii
Bab
I
Pendahuluan................................................................................................................. 1
A. Latar Belakang........................................................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah...................................................................................................... 1
C. Tujuan........................................................................................................................ 1
Bab
II
Pembahasan................................................................................................................. 2
Jenis-jenis
uang yang pernah berlaku di
Indonesia................................................................ 2
A. Mata Uang
Kampua................................................................................................... 2
B. Mata Uang
Tembaga.................................................................................................. 3
C. Mata Uang
Krisnala................................................................................................... 4
D. Mata Uang Golden (Gulden)...................................................................................... 4
E.
Mata Uang Jepang
(Yen)........................................................................................... 5
F. ORI (Oeang Repoeblik Indonesia)............................................................................. 5
G. Mata Uang
Rupiah..................................................................................................... 6
Bab
III Simpulan dan Saran................................................................................................... 9
Simpulan................................................................................................................................ 9
Saran....................................................................................................................................... 9
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Mata
uang terus berembang dari zaman ke zamana. Di Indonesia terdapat lebih dari
satu mata uang yang pernah berlaku, seperti mata uang kampua, tembaga,
krishnala, dan yang lainnya. Setiap mata uang pasti memiliki sejarahnya
masing-masing yang akan dijelaskan di bab II dalam makalah ini.
B.
Rumusan Masalah
C.
Tujuan
Tujuan
dibuatnya makalah ini adalah sebagai berikut:
BAB II PEMBAHASAN
Jenis-Jenis
Mata Uang yang Pernah Berlaku di Indonesia
Ada
7 jenis mata uang yang pernah berlaku di Indonesia, diantaranya:
Dari ketujuh mata uang diatas akan dijabarkan
sebagai berikut:
A.
Mata Uang Kampua

Uang kampua disebut juga bida. Uang ini sangat unik dan
langka. Dibuat dengan keterampilan tangan. Cara pembuatannya bukan dicetak tapi
ditenun oleh putri-putri istana atau kalangan kerajaan. Mata uang ini beredar
pada abad ke-19 di Kerajaan Buton, Sulawesi
Tenggara.
Kemungkinan kampua merupakan uang tertua di Pulau
Sulawesi. Selain di Buton, kampua juga pernah diberlakukan di Bine, Sulawesi
Selatan, dengan bahan serat kayu. Menurut legenda, kampua diciptakan pertama
kali oleh Ratu Buton yang kedua, Bulawambona. Dia memerintah sekitar abad
ke-14.
Keunikan lain uang kampua adalah agar terkendali maka
jumlah dan corak uang ini ditentukan oleh ‘panitia’ pimpinan Menteri Besar
Kerajaan yang disebut ‘Bonto Ogena’. Dialah yang melakukan pengawasan dan
pencatatan atas setiap lembar kain kampua, baik yang telah selesia ditenun
maupun yang sudah dipotong-potong.
Pengawasan ‘Bonto Ogena’ juga dimaksudkan agar tidak muncul
pemalsuan. Kerena itu, hampir setiap tahun motif dan corak kampua selalu
diubah-ubah. Hukum disana memang sangat ketat dan berat. Barang siapa yang
ketahuan membuat atau memalsukan uang kampua akan dipancung.
Standar pemotongan kain kampua adalah dengan mengukur
lebar dan panjangnya, yakni empat jari untuk lebarnya dan sepanjang telapak
tangan mulai dari tulang pergelangan tangan sampai ke ujung jari tangan, untuk
panjangnya. Tangan yang dipakai sebagai alat ukur adalah tangan sang ‘Bonto
Ogena’ itu sendiri.
Mata uang kampua
banyak digunakan pada masa pemerintahan Sultan Dayan pada abad ke-14. Tapi
diyakini pembuatannya sudah dilakukan pada pemerintahan raja sebelumnya.
Disayangkan,
informasi yang akurat belum di temukan. Kampua menjadi populer karena Sultan
Dayan memerintahkan agar setiap transaksi menggunakan mata uang tersebut.
Barang siapa yang ketahuan menggunakan mata uang lain, akan dihukum mati. Pada
awal pembuatannya, standar yang dipakai sebagaai nilai tukar untuk satu ‘bida’
(lembar) kampua adalah sama dengan nilai satu butir telur ayam.
Setelah Belanda memasuki wilayah Buton kira-kira tahun
1851, fungsi kampua sebagai alat tukar lambat laun mulai digantikan oleh
uang-uang buatan “Kompeni”. Ditetapkan bahwa nilai tukar untuk 40 lembar kampua
sama dengan 10 sen duit tembaga atau setiap empat lembar kampua mempunyai nilai
sebesar satu sen. Walaupun demikian, kampua tetap digunakan pada desa-desa
tertentu di Kepulauan Buton sampai 1940.
Selain di Museum Nasional, koleksi uang kampua juga dimiliki
Museum Bank Indonesia Jakarta Kota dan Museum Mpu Tantular Surabaya.
B.
Uang
Tembaga

Uang Tembaga pernah berlaku di Indonesia. Dahulu di Jawa
orang menggunakan potongan-potongan emas dan perak sebagai mata uang, seperti
yang diberitakan oleh Kronik Cina dari zaman Dinasti Song (960-1279). Uang
berupa potongan logam kasar berbentuk setengah bulat, segi empat atau segitiga.
Potongan-potongan logam emas atau perak diberi cap yang menunjukan benda itu
dapat digunakan sebagai alat tukar. Diperkirakan uang ini sudah digunakan sejak
abad ke-7.
Selain itu, ada mata uang zaman Hindhu-Budha yang
berbentuk seperti kancing baju yang disebut uang Ma. Uang Ma juga ditemukan di
Bali dan Sumatera, kebanyakan dibuat dari perak. Berat uang ini sekitar 2,4
gram ini berlaku di abad ke-9.
Tak lama, uang Ma sudah tidak lagu dan diganti oleh uang
baru yaitu, uang gobog. Uang gobog adalah sebutan untuk uang lokal Kerajaan
Majapahit dan Kepeng Cina. Pada abad ke-14, banyak pedagang Cina yang bermukim
di Tuban dan Gresik. Hal ini, membuat transaksi perdagangan masyarakat
menggunakan mata uang tembaga (kepeng) Cina dan Dinasti. Dari sinilah,
masyarakat mulai membuat uang yang menyerupai uang Kepeng Cinta yang dikenal
dengan sebutan uang gobog. Uang tembaga ini mulai berkembang, mulai dari bentuk
ataupun hiasan uangnya.
C.
Uang Krishnala

Uang ini digunakan pada zaman kerajaan Jenggala (1042 –
1130 M).Pada zaman Daha dan Jenggala,uang – uang emas tetap dicetak dengan
berat standar,walaupun mengalami proses perubahan bentuk dan desainnya.Koin
emas yang semula berbentuk kotak berubah desain menjadi berbentuk
bundar,sedanngkan koin peraknya mempunyai desain berbentuk cembung,dengan
diameter amtara 13 – 14 cm.Pada waktu itu uang kepeng cina datang begitu
besar,sehingga karena saking banyaknya uang yang beredar,akhirnya dipakai
secara ‘’resmi’’ sebagai alat pembayaran,menggantikan secara total fungsi dari
mata uang lokal emas dan perak
D.
Uang Golden (Gulden)

Uang gulden (golden) adalah mata uang Belanda selama
beberapa abad sebelum menggunakan Euro. Kata gulden berasal dari bahasa Belanda
Kuno yang berarti `emas`. Indonesia telah menggunakan mata uang gulden Belanda
sejak 1610-1817. Setelah tahun 1817, dikenal mata uang gulden Hindia-Belanda,
yang digunakan sampai kedudukanJepang pada Perang Dunia II. Penggunaan uang
gulden terakhir di Indonesiaadalah sebagai mata uang Nugini Belanda, yang hanya
digunakan hinggatahun1963. Setelah itu penggunaan mata uang rupih mulai meluas.
E.
Jepang (Yen)

Pemerintah Jepang menetapkan mata uang Yen sejak 27
Juni 1871 berdasarkan Shinka
jōrei (peraturan pemerintahan tentang mata uang baru). Sebagai lambang
digunakan tanda ¥ dan menurut ISO
4217 dilambangkan
sebagai JPY. Bila ditulis dengan romaji
(alih aksara dari bahasa jepang ke abjad latin) menjadi Yen dan
bukan En, karena di akhir zaman Keshogunan Tokugawa,
aksara katakana エ (e) dibaca sebagai
"je". Pada waktu itu, kota Edoditulis
sebagai "Yedo", Pulau Ezo sebagai
"Yezo", dan Ebisu ditulis
sebagai "Yebisu".
Ada beberapa penjelasan tentang asal usul penggunaan
aksara kanji en (円y, lingkaran) untuk
menulis lambang mata uang Jepang. Salah satunya adalah tradisi orang Jepang
melambangkan uang dengan lingkaran yang dibentuk dari jari telunjuk dan ibu
jari. Ōkuma Shigenobu mengatakan semua orang Jepang pasti tahu bahwa aksara
kanji untuk “lingkaran” berarti uang. Penjelasan lain mengatakan uang logam
bentuknya bundar, sehingga aksara kanji untuk lingkaran digunakan untuk
menyebut uang. Pada waktu itu di Hong Kong dikeluarkan uang logam bertuliskan
Hong Kong ichi en (香港壱圓), dan ditiru
pemerintah Jepang yang memakai aksara kanji 圓
untuk melambangkan mata uang Jepang, namun menggunakan aksara kanji bentuk
baru.
F.
ORI (Oeang Republik Indonesia)

Oeang Republik Indonesia atau ORI adalah mata uang pertama yang dimiliki Republik Indonesia setelah merdeka. Pemerintah memandang perlu
untuk mengeluarkan uang sendiri yang tidak hanya berfungsi sebagai alat
pembayaran yang sah tetapi juga sebagai lambang utama negara merdeka.
Resmi beredar pada 30 Oktober 1964 ORI tampil dalam
bentuk uang kertas bernominal satu sen
dengan gambar muka keris terhunus dan gambar belakang teks UUD 1945. ORI
ditandatangani Menteri Keuangan saat itu A.A. Maramis. Pada hari itu juga
dinyatakan bahwa uang Jepang dan uang Javasche Bank tidak berlaku lagi. ORI pertama dicetak oleh
Percetakan Canisius dengan desMeski masa peredaran ORI cukup singkat, namun ORI
telah diterima di seluruh wilayah Republik Indonesia dan ikut menggelorakan
semangat perlawanan terhadap penjajah. Pada Mei 1946, saat suasana di Jakarta
genting, maka Pemerintah RI memutuskan untuk melanjutkan pencetakan ORI di
daerah pedalaman, seperti di Yogyakarta , Surakarta dan Malang. Namun peredaran ORI tersebut sangat terbatas
dan tidak mencakup seluruh wilayah Republik Indonesia. Di Sumatera yang beredar
adalah mata uang Jepang. Pada 8 April 1947 Gubernur Provinsi Sumatera
mengeluarkan rupiah.
G. Mata Uang Rupiah

Rupiah merupakan mata uang resmi Indonesia. Mata uang
dicetak dan diatur penggunaannya oleh Bank Indonesia dengan kode ISO 4217 IDR.
Pada awalnya mata uang Indonesia bukanlah rupiah, melainkan Oeang Republik
Indonesia atau ORI mata uang pertama yang dimiliki Republik Indonesia setelah
merdeka.
Kata “Rupiah” berasal dari kata “Rupee”, satuan mata uang
India. Indonesia telah menggunakan mata uang Gulden Belanda dari tahun 1610
hingga 1817. Setelah tahun 1817, dikenalkan mata uang Gulden Hindia Belanda.
Ada beberapa versi dari hasil googling yang TS dapatkan,
yaitu :
Mata uang Rupiah pertama kali diperkenalkan secara resmi
pada waktu pendudukam Jepang sewaktu Perang Dunia ke-2, dengan nama “Rupiah
Hindia Belanda”. Setelah berakhirnya perang, Bank Jawa (Javaans Bank,
selanjutnya menjadi Bank Indonesia) memperkenalkan mata uang “Rupiah Jawa”
sebagai pengganti.
Satuan di bawah rupiah
Rupiah memiliki satuan di bawahnya. Pada masa awal
kemerdekaan, rupiah disamakan nilainya dengan “Gulden Hindia Belanda”, sehingga
dipakai pula satuan-satuan yang lebih kecil yang berlaku di masa kolonial.
Berikut adalah satuan-satuan yang pernah dipakai namun
tidak lagi dipakai karena penurunan nilai rupiah menyebabkan satuan itu tidak
bernilai penting :
Satuan di atas rupiah
Terdapat dua satuan di atas rupiah yang sekarang juga
tidak dipakai lagi :
BAB
III SIMPULAN DAN SARAN
A.
Simpulan
Bersarkan
makalah di atas, Indonesia telah mengalamai berbagai revolusi dalam penentuan
mata uang, dari mata uang kampua hingga rupiah. Masing-masing mata uang dibuat
dari beragam bahan, seperti emas, tembaga, perak, dan kertas. Walaupun memiliki
bentuk yang berbeda-beda, tetapi mata uang tersebut memiliki fungsi yang sama
yakni sebagai alat pembayaran. Setiap mata uang kehadirannya dipengaruhi oleh
beberapa pihak, seperti uang gulden yang cenderung ke Belanda, uang yen
cenderung ke Jenpang, dan yang lainnya cenderung dari kerajaan-kerajaan di
nusantara. Di era sekarang, Indonesia menggunakan mata uang rupiah sebagai alat
pembayaran.
B.
Saran
Di indonesia
terdapat kurang lebihnya 7 jenis mata uang yang pernah berlaku, pelajar dan
seluruh lapisan masyarakat yang hidup di era sekarang mungkin belum mengetahui
bahwa ternyata terdapat bebagai jenis mata uang yang pernah berlaku di
Indonesia. Maka dari itu, kami sarankan agar sisa dari mata uang tersebut di
musiumkan di berbagai musium di Indonesia, dengan begitu pengunjung musium
dapat menambah wawasan akan kehidupan Indonesia khususnya dalam bidang keuangan
dari zaman ke zaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar